Pages

Sabtu, 13 Februari 2016

Rasulullah S.A.W dan Seorang Pendeta Yahudi yang Buta

Di sudut pasar Madinah Al-Munawaroh seorang pengemis yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata, “ wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya, “ setiap pagi Rasulullah S.A.W mendatanginya dan memberikan makanan, dan tanpa berkata sepatah katapun Rasulullah S A W menyuapinya dengan makanan tersebut, walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang beliau wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.
Suatu hari Abu Bakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.a Beliau bertanya kepada anaknya, “ anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan,” Aisyah r.a menjawab pertanyaan ayahnya, “ Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja.” . “Apa sunnah itu,?” . tanya Abu Bakar r.a . “setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawa makanan untuk seorang pengemis yahudi yang berada di sana.” Kata Aisyah r.a.
Ke esokan harinya Abu Bakar r.a pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu Bakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu padanya. Ketika Abu Bakar r.a mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “ Siapakah kamu,?” Abu Bakar menjawab, “aku orang yang biasa,” . “bukan , engkau bukan orang yang biasa mendatangiku.” . jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak usah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku. Tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya, setelah itu ia berikan padaku dengan mulutnya sendiri,” pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abu Bakar r.a tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pemngemis itu, aku memang bukan orang yang biasa memberikan makanan kepadamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar berita Abu Bakar r.a. iapun menangis dan iapun berkata, “benarkah demikian?” .  selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia . . . . pengemis yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abu Bakar r.a seketika itu juga.

Gunung Menangis karena Takut Masuk Golongan Batu Neraka

Pada suatu hari Uqa’il bin Abi Tholib telah pergi bersama-sama dengan Nabi Muhammad S.A.W. pada waktu itu Uqa’il telah melihat berita ajaib yang hatinya bertambah kuat didalam islam dengan sebab tiga peristiwa . peristiwa pertama ialah bahwa Rosulullah S.A.W. akan mendatangani hajat yakni buang air besar dan dihadapannya terdapat beberapa batang pohon. Maka baginda S.A.W berkata pada Uqail, “ hai Uqa’il teruslah engkau berjalan sampai ke pohon itu, dan katakanlah kepadanya, bahwa sesungguhnya Rosulullah berkata ; agar kamu semua datang kepadanya untuk menjadi aling-aling atau penutup baginya. Karena sesungguhnya baginda akan mengambil air wudu dan buang air besar.”
Uqa’il pun mendatangi pohon-pohon itu dan sebelum dia menyelesaikan tugas itu ternyata pohon-pohon itu sudah tumbang dari akarnya serta sudah mengelilingi baginda S.A.W sampai selesai dari hajatnya. Peristiwa kedua adalah, bahwa Uqa’il merasa haus dan setelah mencari air kemanapun jua namun tidak menemukannya. Maka baginda S.A.W berkata pada Uqa’il bin Abi Tholib, “ hai Uqa’il, dakilah gunung itu, dan sampaikan salamku padanya serta katakan, jika padamu ada air, berilah aku minum. “.
Uwa’il lalu pergi mrndaki gunung itu dan berkata padanya sebagaimana yang telah disabdakan baginda. setelah ia selesai berkata, gunung itu berkata dengan fasihnya, “ katakanlah kepada Rasulullah, bahwa aku sejak Allah S.W.T menurunkan ayat yang bermaksud; (hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu beserta keluargamu dari siksa api neraka yang isinya dari manusia dan batu). Aku lalu menangis dalam waktu yang lama sebab aku takut kalau aku nantinya termasuk golongan batu itu maka tidak ada lagi air padaku.”
Peristiea yang ketiga ialah, bahwa ketika Uqa’il seedang berjalan dengan Nabi. Tiba-tiba ada seekor unta yang meloncat dan lari ke hadapan Rasulullah, dan unta itu berkata, “ Ya Rasulullah, aku minta perlindungan darimu. “ unta masih belum selesai mengadukan keluhannya, tiba-tiba datanglah dari belakang seorang arab kampung dengan membawa pedang terhunus. Melihat orang arab itu, Nbi Muhammad S.A.W berkata, “ hendak kamu apakan unta itu, ?”.
Jawab orang kampung itu, “ Wahai Rasulullah, aku telah memberinya dengan harta yang mahal, tetapi dia tidak mau taat (jinak) , maka akan kupotong saja dan akan kumanfaatkan dagingnya (kuberikan kepada orang yang membutuhkannya,).” . Rasulullah  S.A.W. bertanya pada unta tersebut, “mengapa engkau menderhakai dia ?.”
Jawab unta itu, “ Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak menderhakai dia dari satu pekerjaan, akan tetapi aku menderhakainya dari sebab perbuatannya yang buruk. Karena sia dan kelompoknya, sama tidur meninggalkan solat Isya’ . kalau sekiranya ia mau berjanji kepada engkau akan mengerjakan solat Isya’ itu, maka aku berjanji tidak akan menderhakainya lagi. Sebab aku takut kalau Allah menurunkan siksa-Nya kepada mereka dan aku berada diantara mereka.”
Akhirnya Nabi Muhammad S.A.W. mengambil perjanjian orang arab kampung itu, bahwa dia tidak akan meninggalkan solat isya’. Dan baginda Nabi Muhammad S.A.W. menyerahkan unta itu kepadanya. Dan dia pun kembali pada keluarganya.
Demikianlah tadi sebagian kecil mukjizat Baginda Nabi semoga dengan menyimak cerita tadi semakin kuat cinta kita kepada Nabi dalam arti kita semua lebih tekun lagi dalam menjalankan sunah-sunah beliau.

Nabi Musa dan ‘Auj Bin Unuk

Auj bin unuk adalah manusia yang berumur hungga 4,500 tahun. Tinggi tbuh badanya di waktu berdiri adalah seperti ketinggian air yang dapat menenggelamkan negeri pada zaman Nabi Nuh a.s. ketinggi air tersebut tidak dapat melebihi lututnya. Ada yang mengatakan bahwa dia tinggal di gunung. Apabla dia merasa lapar, dia akan menghulurkan tanganya ke dasar laut  untuk menangkap ikan kemudian memanggangnya dengan panas matahari. Apabila dia marah atas sesebuah negeri, maka dia akan mengencingi negeri tersebut hinggalah penduduk negeri itu tenggelam di dalam air kencingnya.
‘auj bermaksud untuk membinasakan Nabi Musa bersama kaumnya itu. Kemudian ‘auj datang untuk memeriksa tempat kediaman askar Nabi Musa a.s., maka dia mendapati beberapa tempat kediaman askar Nabi Musa itu tidak jauh dari tempatnya. Kemudian dia mencabut gunung-gunung yang ada sekitarnya dan di letakkan di atas kepalanya supaya mudah untuk di campakkan kepada askar-askar Nabi Musa a.s.
Sebelum sempat ‘auj mencampakkan gunung-gunung yang di junjung di atas kepalanya kepada askar-askar Nabi Musa a.s, allah telah mengutus burung hud-hud dengan membawa batu berlian dan meletakkanya di atas gunung yang di junjung oleh ‘auj. Dengan kekeuasaan Allah, berlian tersebut menembusi gunung yang di junjung oleh ‘auj sehinggalah sampai ke tengkuknya. ‘auj tidak sanggup menghilangkan berlian itu, akhirnya ‘auj binasa di sebabkan batu berlian itu.
Di katakan bahwa ketinggian Nabi Musa a.s adalah empat puluh hasta dan panjang tongkatnya juga empat puluh hasta dan mmukulkan tongkatnya kepada ‘auj tepat mengenai mata dan kakinya.ketika itu jatuhlah ‘auj dengan kehendak Allah s.w.t, dan akhirnya tidak dapat lari daripada kematian sekalipun badanya tinggi serta meiliki kekuatan yang hebat.

Kisah Wali yang Sholat di Atas Air

Sebuah kapal yang sarat dengan muatan dan bersama 200 orang termasuk ahli perniagaan berangkat dari sebuah pelabuhan di Mesir. Dan ketika kapal itu berada ditengah lautan datanglah angin ribut, petir dengan ombak yang kuat dan membuat kapal itu terombang-ambing dan hampir tenggelam. Berbagai usaha dibuat untuk menghindarkan kapal itu dari ganasnya ombak dan angin ribut, namun semua usaha mereka sia-sia. Kesemua orang yang berada di atas kapal itu sangat cemas dan menunggu apa yang terjadi pada kapal dan diri mereka.
Ketika semua orang berada dalam keadaan cemas, terdapat seorang laki-laki yang tak sedikitpun merasa cemas. Dia kelihatan tenang sambil berdzikir kepada Allah S.W.T. kemudian laki-laki itu turun dari kapal yang seddang terombang ambing dan berjalanlah dia diatas air serta melakukan sholat di atas air.
Beberapa orang pedagang yang bersama-sama dia di dalam kapal itu melihat lelaki yang berjalan di atas air dan ia berkata, “ wahai Wali Allah, tolonglah kami, jangan tinggalkan kami,!” . lelaki itu tidak memandang kearah orang yanng memanggilnya. Para pedagang itu memanggilnya lagi, “ wahai Wali Allah, tolonglah kami, jangan tinggalkan kami,!” .
Kemudian lelaki itu menoleh kearah orang yang memanggilnya dengan berkata, “ ada apa tuan,?” seolah-olah wali itu tidak mengetahui apa maksud orang itu. Pedagang itu berkata, “, “ wahai Wali Allah, tidakkah kamu merasa kasihan terhadap penumpang kapal yang hampir tenggelam ini?” .
Wali itu berkata, “ dekatkan dirimu kepada Allah.”
Para penumpang itu berkata, “ apa yang mesti kami buat ?”
Wali Allah itu berkata “ tinggalkan semua hartamu, jiwamu akan selamat.”
Kesemua dari mereka sanggup meninggalkan harta mereka. Asalkan jiwa mereka selamat. Kemudian mereka berkata, “ wahai Wali Allah, kami akan membuang semua harta kami asalkan jiwa kami selamat.” .
Wali Allah itu berkata, “turunlah kamu semua ke atas air dengan membaca Bismillah.”
Dengan membaca bismillah. Maka turunlah seorang demi seorang ke atas air dan berjalan menghampiri Wali Allah yang duduk di atas air sambil berdzikir. Tidak berapa lama kemudian, kapal yang membawa muatan yang bernilai jutaan rupiah itupun tenggelam ke dasar laut.
Habislah kesemua harta-harata tersebut. Para penumpang tidak tau apa yang hendak mereka buat, mereka berdiri di atas air sambil melihat kapal itu tenggelam.
Salah seorang dari pedagan itu berkata lagi, “ siapakah kamu wahai wali Allah ?”.
Wali Allah itu berkata, “ Saya Uwais Al-Qorni”
Pedagan itu berkata lagi,” wahai wali Allah, sesungguhnya di dlama kapal yang ternggelam itu terdapat harta fakir miskin Madinah yang dihantar oleh jutawan Mesir.”
Wali Allah berkata, “ sekiranya Allah kembalikan kembalikan semua hartamu, adakah kamu betul-betul akan membagikannya kepada orang-orang miskin di Madinah ?”.
Pedagang itu berkata,” betul, saya tidak akan menipu, yaa wali Allah.” .
Setelah wali itu mendengar pengakuan dari pedagan itu, maka diapun mengerjakan sholat dua rokaat di atas air, kemudian dia memohon kepada Allah S.W.T. agar kapal itu di angkat lagi bersama dengan hartanya.
Tidak berapa lama kemudian, kapal itu kembali ke atas sehingga terapung di atas air. Kesemua barang perniagaan dan lain-lain tetap seperti asal. Tiada yang kurang.
Setelahitu naiklah kesemua penumpang ke atas kapal itu dan meneruskan pelayaran ke tempat yang dituju. Setelah di madinah, pedagang yang berjanji dengan wali Allah itu terus menunaikan janjinya dengan membagi-bagikan harta kepada semua fakir miskin di Madinah sehingga tiada seorang pun yang tertinggal.